Pg itu indah. Matahari mulai menampakkan diri dengan malu-malu memberikan kehangatan bagi siapa saja. Harum embun yang menetes dari dedaunan menambah semangat. Hewan-hewan berjingkrakan.Dan Orang-orang mulai sibuk menata kehidupan.
Kami sekeluarga, ada Ayah, Ibu, Kakak dan Adik juga bergejolak dalam sibuknya waktu. Ayah membaca berita terkini dari koran terkenal. Ibu yang sedang menyiapkan sarapan. Kakak yang sedang mencuci mobil. Adik sedang berlatih piano. Dan Aku, sendiri, di kamar, ber-sms ria dg sahabat untuk janjian di kampus. Setiap hari berjalan normal aanpa ada firasat apapun tentang musibah itu.
Setelah jam berdentang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, rumah menjadi sepi, dan tinggallah Ibu di rumah sendiri. Ibuku sangatlah cantik, mungkin kalau dibariskan dengan para putri sejagad, Ibuku tidak kan kalah. Wajah putih rupawan, rambut panjang sebahu, dan dengan tubuh normal, ya walaupun tidak langsing sih. Saat itu Ibu mulai merapikan meja dan berbenah. Sesaat kami merasakan sesuatu, tapi kami belum tahu apa itu. Saat itu, kami belum terlalu jauh dari rumah. Tiba-tiba.....
"AAAAAARRRRGGHHHH........" Kudengat teriakan dari dalam rumah. Kami yang di dalam mobil saling menatap seakan sambil memberikan telepati yang mengatakan, "Apa tu?", "Siapa tu?" Selang beberapa detik setelah itu, kami tersadar bahwa suara tersebut berasal dari rumah. Kami serentak langsung teriak dengan ekspresi panik, "BUNDAAAA..."
Seketika itu juga Ayah memberhentikan mobilnya dan berputar balik, kembali ke rumah. Orang - orang berkumpul di depan rumah membuat rasa penasaran bertambah. Dag dig dug kami menuju ke dalam. Namun, apa yang kami temukan??
Ternyata ada seseorang yang telah lama kami anggap meninggal. Kami terperenjat dibuatnya. Kaget. Berbagai eksperesi heran dan tidak percaya kami keluarkan. Laki-laki ini , dengan tubuh kurus, wajah tirus, dan pembawaan lusuh. Namun tetap masih dapat kami kenali. Dia masih keluarga kandungku, yakni Kakak laki-laki tertua kami yang hilang akibat banjir yang menggenangi Jakarta tahun lalu. Sangkin fokusnya kami akan kehadiran kembali Abang Situ, kami tidak menyadari bahwa Ibu pingsan. Dengan cepat, kami rebahkan Ibu di atas sofa. Sementara Kak Rita mengambil minyak angin dan air putih.
Setelah Ibu sadar, Ayah langsung memberi keterangan kepada tetangga bahwa tidak ada yang serius dan menyuruh mereka kembali beraktivitas. Dan alhasil kami pun tidak kemana-kemana juga. Kemudian masing-masing dari kami langsung menyerbu Bang Situ dengan segudang pertanyaan, pernyataan, dan ekspresi. Wah, pokoknya hari itu menjadi hari yang sangat kisruh. Suasana rumah menjadi riuh rendah. Bang Situ pun sampai-sampai bingung. Hingga tak berasa tiba saatnya makan siang. Masing-masing dari kami yang niat awalnya menjalankan aktivitas rutin, malah kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. "Kami akan makan di luar..Hore!" Kataku dalam hati. Pokoknya hari itu perasaan kami bercampur aduk.
Setelah bercengkerama, kami menilai abangku ini benar-benar gila. Di tengah musibah itu dia bisa selamat. Benar-benar Abang SituSinting!